You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.

Komunitas Desa Garut

Kec. Tarogong Kidul, Kab. Garut, Prov. Jawa Barat
Info

Sejarah Desa Kersamenak Tarogong Kidul Garut


Sejarah Desa Kersamenak Tarogong Kidul Garut

Sejarah berdirinya Desa Kersamenak tidak diketahui secara pasti. Dari hasil penelitian diperoleh, informasi tentang sejarah Desa kersamenak diperkirakan sudah ada sejak masa Pemerintahan Belanda, hal tersebut dikuatkan dengan adanya beberapa sumber-sumber sejarah tentang kepala desa yang menjabat pada masa itu dan berdasarkan beberapa sumber diantara mereka para tokoh kepala desa ada yang mendapatkan bintang penghargaan dari pemerintahan Belanda seperti lurah Natapraja (1930) sebagai kepala desa yang taat dan patuh. (Wawancara H. Suharman, 20 Nopember 2012).

Berdasarkan salah satu penelitian sebelumnya yang menguatkan akan keberadaan desa Kersamenak adalah ketika pemerintah kolonial Belanda memindahkan ibukota kabupaten dari Limbangan ke Garut Kota sekarang, mereka membuka daerah baru. Daerah baru itu memerlukan pasokan air bersih. Mata air Cipulus di selatan kampung Cibunar pernah direncanakan sebagai sumber pasokan salah satu buktinya adalah adanya pembangunan tanggul di daerah tersebut. Namun rencana tersebut tidak dilanjutkan (Ikbal : 2012). Dengan bukti tersebut menjadi alasan lain akan keberadaan Desa Kersamenak pada zaman penjajahan, mengingat kampung Cibunar sebelum terjdi pemekaran merupakan salah satu kampung yang berada di wilayah admistrasitif Desa Kersamenak.

Alasan alasan lain adalah adanya beberapa bangunan rumah  yang ada di salah satu kampung desa kersamenak yang memiliki ciri khas bangunan Belanda, dan juga terdapatnya bangunan-bangunan peninggalan jaman Belanda yang ada di perkampungan desa sebelah yaitu Sukabakti yang masih tetap bertahan sampai sekarang, selain itu beberapa ornamen bangunan yang ada di Rumah sakit Umum Dr. Slamet yang letaknya tidak jauh dari Desa Kersamenak sekitar + 5 km masih terdapat bangunan-bangunan peninggalan jaman Belanda.

Penduk yang mendiami wilayah kersamenak sampai tahun 1960an adalah kaum bangsawan atau menakyang mendominasi perkampungan di wilayah sebelah Barat desa Kersamenak yaitu kampung Cireungit bagian Tengah, kampung Pameungpeuk dan kampung Cicurug dan sebelah timur adalah kampung Salamgede dan Ancol.Golongan Menak di beberapa perkampungan tersebut hanya terbatas beberapa orang saja. Akan tetapi keberadaan golongan menak di kampung tersebut melahirkan anggapan “dicap menak” oleh masyarakat yang lain. Kelompok minoritas Kaum menak yang ada di wilayah Kersamenak adalah menjadi bukti sejarah akan terbentuknya suatu desa yang tetap kokoh sampai sekarang sekalipun dominasi mayoritas masyarakatnya adalah masyarakat biasa.

 Berdasarkan sumber informasi dan fakta sejarah di masyarakat, istilah Kersamenak di tinjau  dari sisi bahasa terdiri dari dua suku kata yaitu kersa  dan Menak, kersaberarti kemauan, keinginan dan harapan, dan menakberarti kaum bangsawan. Dari kedua suku kata tersebut di pahami bahwa tersebtuknya Desa Kersamenak adalah atas dasar adanya kemauan dan gagasan para kaum bangsawan yang ada di wilayah tersebut. Pemahaman lain tentang arti Kersamenak adalah adanya golongan menak yang berpola hidup seperti halnya masyarakat biasa, sehingga mereka tidak pernah memilih-milih pekerjaan yang hendak dikerjakannya, hal ini sesuai dengan ungkapan masyarakat ”menakna kersamenak mah kalersaan”.

Menurut Irawati dalam Warsilah (2000), bahwa pada masa sebelum kemerdekaan sekitar tahun 1940, kalangan masyarakat Indonesia memiliki beberapa strata sosial yang secara garis besar yang paling memiliki peran penting adalah  golongan atas yaitu bangsawan atau Menak, ningrat, priyayi. Hal yang sama dengan masyarakat Kersamenak. ketiga golongan garis besar strata sosial masyarakatnya adalah golongan Menak, masyarakat biasa (cacah) lebih besar dan mendominasi penduduk yang ada di Desa Kersamenak. Golongan masyarakat ini berprofesi sebagai pegawai pemerintahan dan sebagian karena kepemilikan lahan pesawahan yang sangat luas. Sedangkan para pedagang dan pengrajin lebih banyak masyarakat yang tinggal di wilayah Timur desa Kersamenak.

Luasnya wilayah Desa kersamenak terutama di sebelah timur menjadi dinamika perjalan desa yang menarik, mulai terpisah kemudian bersatu dan kemudian terpisah lagi. Sebelum tahun 1948 desa Kersamenak terpisah secara administratif dengan Desa Cibunar seperti halnya sekarang kemudian sekitar tahun 1948 kedua desa tersebut disatukan dan pada tahun 1984 dimekarkan kembali menjadi dua desa yaitu desa Kersamenak dan desa Cibunar.

Berdasarkan data arsip desa ditemukan beberapa tokoh kepala Desa yang pernah menjabat selama kurun satu abad mulai dari ketika kedua desa antara Kersamenak dengan Cibunar masih terpisah kemudian bersatu dan kemudian terpisah lagi sampai sekarang. yaitu desa Kersamenak di sebelah Barat dan desa Cibunar di sebelah Timur.

Dalam perkembangan selajutnya sekitar tahun 1984 wilayah tersebut di mekarkan kembali menjadi dua wilayah desa ketika pada masa kepemimpinan kepala desa Dalilukman dengan batas desa sebelah barat kampung Nangewer masuk ke wilayah Desa Kersamenak dan desa Cibunar hanya membawahi tiga kampung yaitu cibunar Girang, Paku haji dan Cibunar Hilir.

Desa kersamenak mengalami perjalan sejarah yang cukup menarik dan memiliki kekayaan yang cukup melimpah jika dibandingkan dengan desa-desa tetangganya. Sawah bengkok “Carik” istilah lahan sawah yang dimilki pemerintahan desa termasuk lahan paling luas yang dimiliki Desa Kersamenak dan bahkan kekayaan desa Kersamenak juga terdapat di luar daerah persisnya di daerah samarang. Lahan pesawahan yang mengelilingi kersamenak dimiliki oleh beberapa orang sebagai warisan nenek moyangnya. Seiring berjalannya waktu, bentangan luasnya lahan pertanian yang ada di kersamenak sampai tahun 1986 mayoritas sudah dimiliki oleh masyarakat luar desa dan masyarakat kersamenak adalah sebagai penggarapnya (buruh tani). Padahal para pemilik lahan tersebut pada awalnya adalah para penggarap (panyawah) lahan-lahan  sawah milik orang Kersamenak. (Wawancara bersama bapak H. Suharman, 20 November 2012).

Bagikan artikel ini:
Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun)
Formulir Komentar (Komentar baru terbit setelah disetujui Admin)
CAPTCHA Image
Isikan kode di gambar